Khotbah, Renungan Kristen, Bacaan Alkitab, Artikel, Berita

Senin, 23 April 2012

MENGIKUT YESUS BERARTI MENGUBAH CARA PANDANG HIDUP Bahan Bacaan Markus 6:30-44


Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang adalah kisah yang akrab dengan kita. Namun baiklah kita merenungkannya lagi. Dikisahkan para rasul kembali berkumpul dengan Yesus setelah mereka melaksankan tugas dari Yesus (Markus 6:6b-13). Sebelumnya memang mereka untuk beberapa waktu tidak bersama dengan Yesus karena merekapun disuruh melayani orang-orang tanpa bersama dengan Yesus.  Setelah pekerjaan dan pelayanan itu, mereka kembali berkumpul dengan Yesus. Yesus mengajak mereka untuk beristirahat di tempat yang sunyi setelah pelayanan yang mereka lakukan cukup menyita energy bahkan untuk makanpun mereka tidak sempat (Markus 6:31). Mungkin Yesus hendak mendengar laporan pekerjaan pelayanan mereka? Mungkin saja. Kita bisa membayangkan pertanyaan-pertanyaan Yesus kepada para rasul; Bagaimana rasanya melayani?, Bagaimana pengalamanmu berhadapan dengan orang-orang yang butuh pertolongan?, Apakah telingamu peka mendengar teriakan minta tolong orang lain?, Bagaimana perasaanmu melihat orang-orang yang menderita? Dan lain sebagainya. (Kita bisa berimajinasi dalam hal ini bukan?)
Dan ketika mereka bertolak dengan perahu menuju tempat yang dirasa sunyi, rupanya orang-orang melihat mereka dan orang-orang inipun bergegas mengikuti Yesus dan para rasul. Kita melihat, bagaimana antusiasme dari orang-orang ini untuk tetap menjumpai Yesus dan para rasul. Bahkan untuk segera mencapai tempat dimana Yesus dan para rasul berada, mereka rela berjalan kaki. Dan dikatakan dalam bagian Alkitab ini bahwa, orang-orang tersebut datang dari berbagai kota mereka. Penginjil Markus tidak menyampaikan apa motivasi orang-orang ini untuk mengikuti dan menjumpai Yesus dan para rasul. Tetapi kita bisa menduga bahwa mereka terdorong oleh karena hendak dekat deng Yesus yang penuh kuasa dan wibawa itu. Ditambah pula, bahwa orang-orang ini sangat terkesan pula dengan pelayanan para rasul sebelumnya ketika mereka mendapat tugas dari Yesus sebelumnya. Dorongan untuk menjumpai Yesus ini sangat kuat. Hal itu terlihat bahkan sampai hari menjelang malampun mereka tetap setia mendengar pengajaran Yesus (Ayat 34-35)
Melihat situasi ini, para rasul datang kepada Yesus dan mengusulkan kepadaNya agar orang yang sangat banyak itu disuruh pulang mengingat tidak ada makanan yang akan diberikan kepada mereka, sementara orang banyak itu pasti belum makan. Mungkin usul yang bagus tetapi kita mendapati justru Yesus menjawab usul mereka, “Kamu harus member mereka makan” (Ayat 37). Perkataan Yesus ini sepertinya menghentak para rasul karena bagaimana mungkin mereka dapat memberi makan orang sebanyak itu. Disatu sisi perbekalan yang ada tidak cukup dan disisi lain mereka sendiripun belum makan. Bagi para rasul, hal ini sangatlah tidak mungkin.
Tetapi apa yang terjadi? Bekal yang tersedia adalah Lima Roti dan Dua Ikan. Mungkin para rasul bertanya, apa yang akan kita lakukan dengan bekal yang “super” sedikit ini dibandingkan dengan orang yang sangat banyak itu yang sementara lapar dan lelah. Ini tidak mungkin!
Kemudian Yesus mengambil bekal itu. Mengucap berkat atasnya dan kemudian membagikan kepada orang banyak itu yang duduk berkelompok. 5000 orang laki-laki banyaknya, perempuan dan anak-anak belum terhitung disitu. Mereka makan sampai kenyang dan ketika dikumpulkan potongan-potongan roti itu ada dua belas bakul dan sisa-sisa ikan. Mujizat terjadi!. Hal yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin.
Dari kisah ini, paling tidak ada dua hal yang patut kita renungkan,
Pertama, Menjadi murid Tuhan adalah menjadi orang yang bukan hanya sekedar menjadi pengikut tanpa diikuti dengan perubahan gaya dan sikap hidup. Dari kisah ini kita mendapati bahwa Yesus merubah orientasi berpikir para rasul. Ketika mereka mengusulkan kepada Yesus agar orang banyak yang mengikuti mereka itu disuruh pulang agar mencari makanan, Yesus justru menyuruh para rasul untuk memberi makan. Sekalipun Yesus pasti tahu bahwa Dia dan para rasulpun belum makan hari itu ditambah lagi lelah dan penat seharian mengajar.
Disini para rasul diajak untuk tidak mengarahkan perhatian terhadap diri sendiri tetapi kini harus mengarahkan perhatian kepada orang lain. Orientasi para rasul dirubah. Dari memperhatikan perut dan diri sendiri, ke sikap hidup yang memperhatikan orang lain.
Kitapun sebagai orang percaya diajak demikian. Ketika kita mengakui bahwa kita adalah pengikut-pengikut Tuhan maka orientasi hidup kitapun seharusnya berubah. Pola piker, gaya hidup dan sikap kita pun harus berubah.
Hal ini penting. Ketika kehidupan sekarang sepertinya dipacu dengan berbagai bentuk cita-cita dan harapan, tidak dapat dipungkiri orang percaya sepertinya dibawa pada kondisi dimana untuk memperhatikan dan mempedulikan orang lain menjadi sikap yang asing. Dengan kata lain, kita sepertinya terkondisi dengan situasi “Mengamankan diri sendiri dulu, orang lain belakangan”. Dari kondisi dan sikap seperti ini, tidak jarang orang harus mengorbankan orang lain agar tujuannya tercapai lebih dulu. Orang lain tidak lagi dilihat sebagai sahabat dan teman melainkan sebagai saingan dan musuh yang harus disingkirkan. Keadaan yang sangat memprihatinkan dewasa ini manakala kepekaan terhadap realita social semakin berkurang oleh karena individualism yang merajalela.
Firman Tuhan mengingatkan kita bagaimana kehidupan orang percaya yang seharusnya adalah kehidupan yang bukan hanya untuk diri sendiri tetapi kehidupan yang berpikir dan berbuat untuk orang lain juga. Pendek kata, Paradigma “Untuk Diri Sendiri” harus berubah menjadi paradigma “Untuk Orang Lain” ketika kita menjadi pengikut Tuhan.
Yesus mengajak dan membentuk pola pikir para rasul bahwa hubungannya dengan Tuhan harus berdampak pada hubungan bersama dengan orang lain. Dengan kata lain, penghayatan hidup sebagai murid Tuhan secara vertical akan terlihat dan tercermin dalam hubungan yang horizontal. Seperti itulah seharusnya hidup kita. Kesetiaan kepada Tuhan seyogianya terimplementasi dalam kepedulian dan keprihatinan terhadap sesama.  Pdt Eka Darmaputera pernah menulis begini, “Iman yang otentik atau asli akan terlihat dalam interaksi dengan orang lain”.
Hal yang kedua yang dapat kita renungkan dari bagian Alkitab ini adalah, kelangsungan hidup umat Tuhan ada di tangan Tuhan sendiri. Bagi para rasul, bagaimana mungkin lima roti dan dua ikan dapat mengenyangkan orang yang sangat banyak itu. Disini keraguan dan kebimbangan menjadi dominan menggantikan sikap percaya kepada Yesus yang adalah Tuhan. Padahal ada sekian waktu mereka telah bersama-sama dengan Yesus. Tidak sedikit pengalaman dan peristiwa yang mereka alami dan saksikan bersama Yesus yang seharusnya menjawab keraguan dan kebimbangan itu. Tetapi peristiwa memberi makan lima ribu orang ternyata harus pula disaksikan oleh para rasul dan kepada banyak orang pula bahwa Yesus adalah Tuhan empunya kehidupan.
Realita menyaksikan kepada kita sebagai orang percaya, seringkali ketika berhadapan dengan situasi-situasi yang berurusan dengan soal perut ataupun dengan persoalan-persoalan yang genting, kita sepertinya meragukan apakah Tuhan akan bekerja dalam kehidupan kita. Seperti para rasul, sebenarnya pengalaman hidup bersama Tuhan selama ini cukup menjawab dan memberi kepastian dalam perjalanan hidup kita namun kerap keraguan dan kebimbangan dan sangsi kepadaNya datang juga. Ketika berhadapan dengan situasi yang sulit, ketika harapan dan cita-cita hidup yang sepertinya menjauh, ketika kegagalan demi kegagalan menerpa hidup kita, kita mulai sangsi apakah Tuhan masih mempedulikan kita.
Peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang ini kembali menegaskan dan menguatkan serta menyadarkan kita bahwa Dia, Tuhan selalu memperhatikan kita. Seperti orang banyak yang datang menemui Yesus itu, mereka tidak disuruh pulang. Mereka dijamu dan dipuaskan Tuhan. Harapan mereka dijawab, permintaan mereka diberikan Tuhan.
Kiranya kitapun semakin dikuatkan menjalani hidup ini bersama dengan Tuhan yang terus bekerja dalam hidup kita dan kita dimampukan untuk terus menyatakan kehadiran Tuhan itu dalam hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Amin.

1 komentar:

  1. Renungan yang sangat meninspirasi dan menggugah sanubariku sebagai pengikut Kristus.
    Trrimakasih kiranya kabar gembira ini bisa dijadikan sumber kekuataan iman dalam mengikut Yesus.

    BalasHapus