Khotbah, Renungan Kristen, Bacaan Alkitab, Artikel, Berita

Rabu, 11 April 2012

KETAATAN DAN KESETIAAN DALAM IMAN ADALAH WUJUD KEHIDUPAN ORANG KRISTEN Bahan Bacaan : Wahyu 13:11-18


Orang berkata, “Jangan melawan arus, nanti arus itu akan menyeret kita”. “ Semakin kita melawan arus maka kita  akan semakin terseret oleh arus itu dan membuat kita tidak berdaya”. Dan ungkapan itu bukan sebatas ungkapan semata tetapi kini telah menjadi sebuah filosofi yang sepertinya menghipnotis semua orang ketika berlomba untuk menggapai tujuan hidup. Sementara  harapan yang hendak diraih itupun menjadi incaran orang lain. Dalam kondisi itu, “apa boleh buat, buat apa yang boleh”. Begitu kita mendengar argumentasi orang dalam rangka supaya tetap bertahan di tengah situasi yang semakin sulit.
Dengan kata lain, kesulitan yang dihadapi sering mengantar orang untuk berbuat apa saja demi keluar dari kesulitan tersebut. Tidak peduli apakah sikap dan tindakan yang diambil tersebut masih bersesuaian dengan karakter, keluhuran hati  yang mulia dan identitas yang dimiliki atau justru bertentangan.
Berbicara soal kesulitan dan bagaimana bertahan  hidup ditengah kesulitan itu sambil mempertahankan karakter dan jati dirinya, orang Kristen di abad-abad pertama telah mengalaminya. Penglihatan Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu mengetengahkan kepada kita bagaimana kehidupan yang dialami oleh orang-orang Kristen itu. Mereka hadir ditengah dunia yang kejam dan beringas. Ketika gereja mulai bertumbuh, ia hadir ditengah situasi yang berat dan menyulitkan perkembangannya. Keadaan orang-orang percaya itu disimbolkan seperti penderitaan perempuan yang mengandung dan melahirkan (Wahyu 12:2, 13-18). Suatu gambaran penderitaan yang sangat berat. Proses melahirkan selalu digambarkan orang sebagai peristiwa dimana antara kehidupan dan kematian hadir berdampingan. Pendeknya antara hidup dan mati.
Seperti itulah yang dialami oleh orang-orang Kristen di abad pertama. Tekanan dan penindasan bahkan penganiayaan dan pembunuhan menjadi warna hidup mereka. Mengapa hal itu terjadi?. Penguasa Romawi dalam hal ini Kaisar Roma yang disimbolkan sebagai binatang yang keluar dari dalam bumi telah menetapkan dirinya sebagai dewa dan Tuhan. Semua orang harus menyembah dia. Mereka yang tidak menyembah dibunuh (Ayat 15). Bahkan untuk meyakinkan semua orang bahwa ia berkuasa dan tidak ada yang dapat menandinginya, ada banyak tanda yang dasyat yang ditunjukannya. Semua orang harus menyembah dia tidak ada yang terkecuali termasuk orang Kristen. Dan kemudian mereka yang menyembah Kaisar di beri tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya. Tanda dalam mana mereka terhisab dalam komunitas penyembah binatang itu (Kaisar Roma). Mereka yang tidak ditandai, itu berarti termasuk dalam kelompok yang tidak mengakui keilahian dan kekuasaan binatang itu.
Kelompok inilah orang percaya (Orang Kristen). Komitmen mereka bahwa hanya Yesus Kristuslah yang pantas dan layak disembah karena Dialah Tuhan. Itulah sebabnya mereka tidak menyembah Kaisar dan tidak menyebutnya sebagai Tuhan. Konsekuensi dari sikap dan prinsip iman inilah orang Kristen mengalami penganiayaan yang hebat dan sangat mengerikan.  Sejarah Gereja mencatat bagaimana orang-orang Kristen yang tetap setia mempertahankan imannya harus dibakar hidup-hidup, ada yang diadu dengan binatang buas di gelanggang olahraga dan menjadi tontonan dan lain sebagainya.
Bagian Alkitab yang menjadi pokok perenungan kita saat ini hendak menyadarkan kita kembali bahwa sesungguhnya perjalanan hidup sebagai orang percaya adalah suatu perjalanan yang sarat dengan berbagai tantangan dan pergumulan. Suatu perjalanan yang menuntut ketangguhan iman ditengah kuatnya godaan dan tawaran dunia serta hebatnya ancaman untuk meninggalkan kepercayaan dan komitmen kepada Yesus Kristus.
Bagi kita sekarang, mungkin kita tidak mengalami peristiwa yang persis sama dengan apa yang dialami oleh gereja yang masih muda di zaman yang dilihat oleh Rasul Yohanes. Dimana “Binatang” yang menjadi symbol dari penindasan, penganiayaan dan pembunuhan merajalela. Akan tetapi sadar ataupun tidak sadar sesungguhnya kitapun berada ditengah situasi dimana “binatang” yang merupakan personifikasi dari Si Jahat itu kini hadir dengan berbagai bentuk yang berbeda dan menantang komitmen kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Dia bisa hadir dalam sebuah kursi yang terus diperebutkan, dia bisa hadir dalam konteks pekerjaan dan karir yang dalam proses perebutan itu nilai-nilai kristiani menjadi daftar terakhir criteria sikap dan tindakan demi sebuah tujuan. Ketika ingin mempertahankan kuasa, karir, kemapanan materi dan sebagainya, ia bisa menjelma dalam wibawa dan kekuatan yang menindas. Ketika untuk mencapai suatu tujuan, orang terpaksa harus menyingkirkan orang lain. Tidak peduli apakah cara yang dilakukan itu baik atau tidak. Komitmen iman menjadi hal terakhir setelah tujuan yang utama.
Demi terbebas dari berbagai persoalan dan permasalahan kehidupan, orang memilih jalan keluarnya sendiri tanpa mendengarkan kata Tuhan. Bahkan tidak jarang perkataan dan Instruksi “Atasan” atau “Bos” itu lebih penting demi karir dari pada pesan Firman. Dan demi demi yang lain.
Disinilah letak tantangan yang besar bagi orang percaya saat ini. Tawaran dan godaan dunia seperti gelombang besar yang siap menggulung dan ibarat arus yang kuat dan berputar yang siap mengantar pada pusaran air hingga ke dasar yang terdalam. Pada saat yang sama identitas dan jati diri kekristenan mendapat pertanyaan yang besar.
Dan ketika orang berkata, “Jangan melawan arus”,  justru Firman Tuhan berkata, “Yang penting disini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana…” (ayat 18). Dalam konteks ini, justru orang percaya harus berani melawan arus. Karena di zaman itu Arus itu adalah keharusan menyembah sang binatang;  Arus itu adalah diberi tanda pada tangan kanan dan dahi supaya dihisabkan kepada kelompok yang bisa lolos dari ancaman pembunuhan. Dalam hal ini, orang Kristen harus menolaknya.
Dengan perkataan lain, orang lain bisa saja hidup dengan sikap dan karakter “Mengikuti Arus” tetapi orang percaya harus tidak seperti itu. Orang Percaya harus tampil beda. Tampil dengan tampilan yang tidak menjadi sama dengan apa yang ditawarkan dunia. Rasul Paulus berkata dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.
Firman Tuhan mengajak kita untuk menjadi orang-orang percaya yang waspada terhadap tawaran-tawaran iblis yang sangat menarik dan pada saat yang sama kesetiaan kepada Yesus Kristus sumber kehidupan harus tetap dipertahankan dalam berbagai segi kehidupan kita. Mungkin kita akan lebih banyak mengalami berbagai pergumulan, kesulitan dan berbagai harapan yang sepertinya belum tercapai oleh karena komitmen dan kesetiaan kita kepada Tuhan. Tetapi keyakinan kita dikuatkan ketika menghadapi berbagai tekanan hidup dan pergumulan, ditengah tawaran dunia yang menarik dan sangat memikat,  seperti yang dikatakan dalam Yakobus 1:12 “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia”.
Kita diingatkan bahwa kesetiaan itu harus sampai pada akhir hidup kita. Pdt Eka Darmaputera mengilustrasikan kesetiaan ditengah tantangan dan tawaran dunia itu  begini, “Orang Kristen ibaratnya berada dalam sebuah pertandingan. Dalam pertandingan di babak-babak penyisihan, kita banyak mengalami kemenangan bahkan kemenangan telak. Tetapi ketika masuk pada babak Big Match yang adalah pertarungan hidup mati, kita kalah. Dengan demikian sia-sialah usaha kita sejak awal bila pada akhirnya toh kita dikalahkan”.
Sebagai orang percaya kita terus diingatkan bahwa sesulit apapun hidup ini dan semanis apapun tawaran dunia yang pada akhirnya hendak memudarkan ketaatan kita kepada Tuhan biarlah kita kuat dan tetap setia kepada Tuhan. Kiranya Tuhan terus memampukan kita.    Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar