Khotbah, Renungan Kristen, Bacaan Alkitab, Artikel, Berita

Sabtu, 05 Mei 2012

PENGAMPUNAN SETELAH PERTOBATAN Bahan Bacaan Yesaya 57:14-21


Disaat orang mengalami tekanan hidup, pergumulan dan persoalan, orang sangat mengharapkan penghiburan di saat-saat itu. Dengan penghiburan, orang dapat memperoleh kekuatan baru, motivasi dan semangat baru untuk melanjutkan hidup ini. Sebaliknya dikala orang mengalami berbagai pergumulan dan kesulitan hidup dan disaat yang sama dia disudutkan dan tidak dihiraukan maka orang bisa saja tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan kehidupan. Dengan kata lain, apa yang sangat dinantikan orang disaat mengalami tekanan hidup adalah penghiburan dan penerimaan kembali akan kehidupannya.

Inilah yang sangat dinanti oleh orang-orang Israel dikala mereka telah kembali dari pembuangan di Babel. Tetapi, apa sebenarnya yang terjadi dengan umat Tuhan ini. Kenapa mereka sampai ada di Babel? Bahkan mengapa Babel disebut sebagai Tanah Pembuangan. Bukankah Umat Israel adalah umat Tuhan, Umat pilihan Tuhan dan Umat kesayangan Tuhan?. 

Rupanya sebagai Umat Tuhan, mereka tidak lagi hidup sesuai dengan identitas yang mereka sandang. Sebagai Umat Tuhan, mereka seharusnya hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Tetapi yang terjadi adalah kehidupan umat Tuhan tidak lagi mencerminkan kehidupan sebagai Umat Tuhan yang sejati. Kemapanan telah membuat mereka lupa diri dan lupa Tuhan. Kemakmuran, bagi mereka merupakan jaminan kehidupan sekalipun tanpa Tuhan. Dalam perjalanan kehidupan mereka, peran Tuhan yang adalah Pemimpin umat telah tergantikan dengan pengandalan kekuatan manusia bahkan penyembahan berhala terjadi dimana-mana. Belum lagi kehidupan mereka baik pemimpin-pemimpin umat maupun umat sendiri telah jatuh dalam ketamakan, loba, penindasan terhadap sesama dan lain sebagainya. Pendek kata kehidupan umat saat itu telah jauh dari Tuhan. Mereka sepertinya sengaja lupa bahwa kehidupan yang mereka nikmati sejak dari tanah Mesir sampai ditanah Kanaan dan menikmati kehidupan yang makmur oleh karena karya selamat Tuhan.

Keadaan inilah yang mengantar umat Tuhan di buang di tanah Babel. Dengan kata lain, Tuhan Allah sendiri yang membuang mereka ke Babel oleh karena dosa dan kebebalan mereka. Kemarahan Tuhan menjadi nyata manakala Ia mendapati bahwa umatNya sendiri kini telah menjauh dari Dia. Pembuangan di Babel dengan segala konsekuensi penderitaan adalah bentuk penghukuman Tuhan atas bangsa pilihan Tuhan ini. Pembuangan di Babel adalah konsekuensi dari umat Tuhan kala mereka tidak hidup setia dan dengar-dengaran kepada Tuhan. Babel menjadi tempat penghukuman manakala umat Tuhan hanya memilih mendengarkan kata hati sendiri . (Baca ayat 17).

Disaat-saat seperti inilah umat Tuhan sangat merindukan penghiburan dan penerimaan kembali oleh Tuhan. Kehidupan yang mereka alami di tanah pembuangan merupakan kehidupan yang jauh dari harapan mereka. Apakah pengharapan umat Tuhan ini dijawab oleh Tuhan? Ya, dengan catatan. Mereka harus bertobat dan bertekad untuk hidup bersama dengan Tuhan. Berita ini disampaikan oleh nabi Yesaya. “Bukalah, bukalah persiapkanlah jalan, angkatlah batu sandungan dari jalan umatKu” (ayat 14). Ini merupakan ajakan pertobatan bagi umat Tuhan. Umat Tuhan tersandung oleh perbuatan mereka sendiri. Dan kini batu sandungan itu harus dibuang dan ditinggalkan.
Mengapa? Karena tanpa pengakuan dan pertobatan maka pengampunan tidak akan teralami dan didapatkan. Sebaliknya manakala mereka datang pada pengakuan akan keberdosaan mereka dan bertobat dari segala yang mereka lakukan maka firman Tuhan berkata, ………..ayat 15 dan 16.
Dengan pengakuan dan pertobatan maka ada pengampunan. Dengan pengampunan maka ada kehidupan baru.  Baca ayat 18 dan 19……

Pengalaman umat Israel yang akhirnya di buang di tanah Babel menjadi pengalaman yang berharga dalam kehidupan kita sebagai orang percaya masa kini. Ternyata penderitaan seringkali bukan hanya disebabkan oleh karena kemiskinan dan tidak tercukupinya kebutuhan manusia. Tetapi penderitaan kerap kali menjadi buah oleh karena kemakmuran yang tidak  disikapi dengan bijak oleh umat Tuhan. Terkadang orang percaya berpikir bahwa dengan kemakmuran, maka segala sesuatu dapat diraih dan dengan kemakmuran, kehidupan dapat dijalani dengan cerah. Kalau sebelumnya kebersamaan dan saling menghidupkan menjadi warna hidup tetapi dengan kemakmuran bisa saja orang lebih mementingkan diri sendiri. Kalau sebelumnya, Tuhan selalu yang menjadi utama dalam kehidupan namun dengan kemakmuran bisa saja Tuhan menjadi yang sekunder atau pelengkap menjalani hidup. 

Ternyata, kemakmuranpun  dapat membuat orang percaya lupa diri, lupa sesama bahkan lupa Tuhan. Pengalaman Israel telah menyaksikan kepada kita bagaimana kehidupan mereka di tanah Kanaan lambat laun membuat mereka lupa segala-galanya. Bahkan Tuhan tidak lagi dilihat sebagai Pengatur jalan hidup mereka. Tuhan tergantikan dengan berbagai bentuk berhala, yang oleh firman Tuhan disebut sebagai perzinahan. Akibatnya mereka harus menanggung penderitaan itu di tanah pembuangan.
Namun Tuhan itu penuh kasih dan kemurahan. Ia tidak membiarkan umatNya terus berada dalam penghukuman dan penderitaan. Ia membuka lebar-lebar pintu maaf dan memberi pengampunan asalkan umatNya menyesal akan perbuatannya dan mau bertobat.
Penyesalan dan pertobatan lahir dari sebuah kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, penyesalan hanyalah sebuah topeng dan kemunafikan. Itulah sebabnya Firman Tuhan berkata, “Aku bersemayam di tempat tinggi dan ditempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati” . Remuk dan Rendah Hati menunjuk pada penyesalan dan sadar diri dihadapan Tuhan.

Firman Tuhan mengajak dan mengingatkan kita bahwa sesungguhnya Tuhan sangat mempedulikan kita. Apakah disaat kita senang apalagi ketika kita mengalami kesusahan dan pergumulan. Namun yang harus kita ingat adalah pengampunan dan damai sejahtera akan Ia berikan manakala kita datang dalam pengakuan dosa dan bertekad untuk mengadakan pertobatan dan pembaharuan hidup.

Menjalani kehidupan ini, bisa saja kita jatuh dalam kehidupan yang menjauh dari Tuhan. Namun penting untuk diingat adalah marilah dengan penuh kesadaran kita mengakuinya dihadapan Tuhan dan datang dalam pertobatan. Selama kita angkuh dan tidak mengakuinya dihadapan Tuhan bahkan justru mencari-cari jalan untuk membenarkan diri maka berita pengampunan dan damai sejahtera itu tidak akan kita terima.
Kenyataan sering menyaksikan kepada kita, bagaimana orang percaya dengan penuh kepercayaan diri ketika mengalami pergumulan, menganggap bahwa dia tidak perlu menyesal dan mengaku dosa dan terus beranggapan bahwa nantinya penderitaan akan berakhir dengan sendirinya. Kerendahan hati tidak ada lagi melainkan keangkuhan dan kesombongan. Hal itu tidak ubahnya seperti orang fasik (ayat 20).
Firman Tuhan mengingatkan bahwa betapa Tuhan akan menyayangi dan merangkul kembali kita dan memberikan kehidupan yang penuh damai sejahtera asalkan kita datang dengan penuh kerendahan hati kepadaNya.

Diawal khotbah tadi dikatakan bahwa disaat-saat yang penuh kesulitan dan penderitaan, hal yang sangat dinanti setiap orang adalah penghiburan dan penerimaan. Berita damai dan pengampunan. Itulah janji Tuhan bagi orang percaya yang dengan penuh kerendahan mengaku dosa dan bertekad untuk bertobat.
Kita percaya bahwa ketika kita kembali hidup bersama dengan Tuhan , maka seperti syair sebuah lagu “Pelangi Sehabis Hujan”.Itulah yang akan kita alami dan nikmati.
Firman Tuhan ini kiranya akan terus mengingatkan, menguatkan dan memampukan kita untuk hidup bersama Tuhan dalam hidup yang terus dibaharui dan membaharui diri. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar