Khotbah, Renungan Kristen, Bacaan Alkitab, Artikel, Berita

Rabu, 25 April 2012

KESETIAAN DITENGAH TAWARAN DUNIA YANG MEMIKAT Bahan Bacaan Yesaya 28:7-22


Siapa yang mau menderita dalam hidup ini? Tentu tidak ada seorangpun yang menginginkan hal itu terjadi dalam hidupnya. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa penderitaan itu seringkali mewarnai perjalanan hidup kita, dengan berbagai bentuk. Dan apabila penderitaan itu terjadi oleh karena perbuatan kita sendiri, bagaimana tanggapan kita? Atau dengan kata lain, ketika penderitaan itu datang sebagai bentuk hukuman Tuhan oleh karena perbuatan kita sendiri sebagai orang yang percaya. Apa yang hendak kita katakan?.

Umat Israel adalah umat pilihan Tuhan, umat yang diberkati dan umat yang dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Tanah Mesir oleh karena pengasihan Tuhan, menjadi tanda bahwa Umat Israel sementara dipersiapkan Tuhan sebagai umat yang menjadi berkat bagi orang lain. Perjalanan mereka di padang gurun dengan penyertaan Tuhan turut membentuk karakter mereka sebagai umat Tuhan sehingga menjadi umat yang taat dan setia beribadah kepada Tuhan Allah sendiri. Ciri khas sebagai umat yang beribadah kepada Tuhan adalah ciri utama dari bangsa ini.
Akan tetapi perjalanan waktu telah menyaksikan bahwa ketika umat ini berpaling dari Tuhan dan mulai mengandalkan kekuatan-kekuatan dunia dan manusia, umat Israel yang semula satu akhirnya terpecah menjadi dua Yaitu Israel Utara (Samaria) dan Israel selatan (Yehuda). Peristiwa ini juga menjadi tanda bahwa Allah sementara menghukum umatNYa sendiri akibat kesetiaan yang berubah pada ketertundukan pada kekuatan dan kemampuan manusia semata. Itulah yang sementara terjadi dalam kehidupan umat Tuhan baik di Selatan maupun di Utara. Kehidupan para pemimpin umat dan umat sendiri berada dalam keadaan krisis dan kritis oleh karena mulai menjauh dari Tuhan. Dalam kondisi itulah Yesaya tampil bernubuat menyuarakan Firman Tuhan.

Yesaya menggambarkan bahwa keberadaan pemimpin2 Israel tidak lagi mencerminkan kepemimpinan yang dituntut Tuhan. Mereka dimabukkan oleh anggur dan arak sehingga kepemimpinan mereka tidak lagi menjadi anutan dan teladan. Mereka tidak mampu lagi mengarahkan perjalanan umat Tuhan ke arah yang dijehendaki Tuhan. Dan agaknya keadaan ini juga menggambarkan bahwa pemimpin2 Israel sedang dimabuk kekuasaan, mabuk jabatan sehingga kesombongan, keangkuhan dan pementingan diri sendiri terjadi dimana-mana. Bagi mereka hal ini memang lazim dan bahkan dipandang baik2 saja. Oleh karena itu tidak heran, umat sendiripun berada dalam kondisi seperti itu. Dan yang lebih parah lagi adalah baik pemimpin umat maupun umat sendiri telah melupakan ciri khas dan identitas mereka sebagai umat pilihan Tuhan yaitu sebagai umat yang taat beribadah dan bersekutu dengan Tuhan. Mereka kini lebih memilih pada penyembahan-penyembahan berhala daripada datang menyembah kepada Tuhan Allah yang sejak dulu menyatakan kuasa dan keajaiban-keajaiban bagi perjalanan hidup mereka. Sikap ini dimana umat Tuhan mulai senang dengan penyembahan berhala menunjukkan bahwa kehidupan umat Tuhan sedah jauh terperosok kepada jurang kebinasaan. Yesaya menyebutnya “Perjanjian dengan Maut”.  
kondisi ini sangat memprihatinkan sehingga Yesaya berkali-kali memperingatkan bangsa ini namun tidak dihiraukan. Ay.15. mereka pikir mereka bisa lolos. Oleh karena itu Yesaya menyampaikan bahwa akibat perbuatan ini maka umat Tuhan akan dihukum oleh Tuhan sendiri (ay.21). mereka akan mengalami penderitaan akibat ulah mereka sendiri. Penderitaan itu digambarkan bahwa Yerusalem akan hancur (tempat perhentian--- ay.12). padahal Yerusalem bagi Israel merupakan kota yang kudus, kota yang menjadi simbol kehadiran Allah. Akan tetapi kehancuran ini tidak akan terhindarkan oleh karena kehidupan umat Tuhan yang tidak lagi taat dan setia kepada Tuhan.  Ay. 21- 22,  Yesaya menegaskan akan kepastian kehancuran Israel dimana Allah sendiri menghendakinya.

Seperti itulah yang akan terjadi apabila umat Tuhan mulai menjauh dari Tuhan. Sepertinya Israel lupa bahwa apa yang mereka jalani dan menikmati kehidupan sejak dari Mesir adalah karena kasih Tuhan. Sangat ironis memang umat yang dipilih dan umat yang diberkati kini berada diambang kehancuran. Penderitaan yang akan mereka alami semua itu disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri.

Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa selaku umat Tuhan kita harus menyadari bahwa hidup yang kita jalani adalah pemberian Tuhan dan tanda kasih Tuhan bagi kita. Adalah sangat ironis apabila kita yang telah merasakan pemeliharaan dan kasih Tuhan itu justru meninggalkan Tuhan dan berpaling pada kekuatan-kekuatan manusia dan dunia. Mungkin kita tidak seperti bangsa Israel di zaman Yesaya bernubuat akan tetapi kita diingatkan baik sebagai pemimpin maupun sebagai umat Tuhan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan itu jangan sampai berubah. Mabuk oleh kekuasaan, pening oleh jabatan, kesombongan dan keangkuhan bukanlah ciri khas kita sebagai orang percaya. Kita tahu kesombongan dan keangkuhan itu muncul oleh karena kita merasa tinggi. Dan kita tahu bahwa ketinggian seringkali berdampak negatif. Demikian pula ketika kita merasa tinggi, hati-hati ketinggian itu bisa mengeluarkan hawa panas yang bisa mencederai orang lain. Demikian pula ketika umat Tuhan berpaling pada berhala-berhala, Tuhan menjadi marah. Benar kita tidak lagi menyembah berhala seperti umat Israel di masa itu, tetapi tidak dapat kita pungkiri bahwa berhala-berhala modern seringkali menggantikan posisi Tuhan dalam hidup kita. Ketika kita mulai memahami bahwa kecukupan materi dapat menjamin kehidupan kita hati-hati kita mulai dekat pada perjanjian dengan maut. Ketika kita mulai beranggapan persekutuan dengan Tuhan tidak penting, kita harus berani bertindak dan berhenti berpikir seperti itu. Tuhan lebih penting daripada segala galanya.

Berita penghukuman yang disampaikan Yesaya dalam bagian alkitab saat ini paling tidak dikarenakan 2 hal :
1.      Keangkuhan dana kesombongan pemimpin maupun umat Tuhan
2.      Penyembahan berhala yang berarti mulai menganggap Tuhan danpersekutuan denganNya tidaklah penting.
Maka konsekuensinya adalah penghukuan dan penderitaan.
Kita tidak berharap dan tidak menginginkan hal itu terjadi dalam hidup kita kini dan di sini. Oleh karena itu marilah tetap hidup dalam karakter dan ciri khas sebagai umat Tuhan yang mau menjawab kasih Tuhan itu dalam hidup keseharian kita dan dalam hidup yang terus rindu bersekutu dengan Tuhan. Amin.

PASKAH KRISTUS ADALAH BERITA KEHIDUPAN Bahan Bacaan Matius 28:1-10


Setelah penyaliban dan kematian Yesus, para murid dan perempuan-perempuan yang setia melayani Yesus tidak berani keluar rumah.  Ketakutan yang  memang beralasan karena  keberadaan mereka tidak dapat dilepaskan dengan sosok Yesus yang disalib oleh Orang-orang Yahudi dan tentara Romawi.  Peristiwa penyaliban Yesus dapat saja menyeret mereka pada bahaya bahwa mereka adalah pengikut-pengikut Yesus. Dengan kata lain, bukan tidak mungkin merekapun menjadi target berikutnya dari para Imam, orang Yahudi dan penguasa Romawi. Mereka hanya menunggu apa yang akan terjadi setelah Yesus di salib dan mati.
Dan pada hari Minggu pagi itu,  Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi menengok kubur dimana Yesus dikuburkan.  Apa yang terjadi? Ditengah perasaan yang tidak menentu, perasaan takut yang masih menyelimuti, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Malaikat Tuhan.  Malaikat Tuhan yang menyapa mereka,  “Janganlah takut….Ia tidak ada disini. Ia telah bangkit “ (ayat 5 dan 6).
Inilah berita yang mengejutkan dan membawa sukacita bagi mereka.  Tidak hanya berhenti sampai disitu, ketika mereka hendak bergegas meninggalkan kubur itu dalam keadaan takut namun bersukacita, Yesus menjumpai mereka dan berkata,  “Salam bagimu”, …. (Selamat atau Damai bagimu atau damai untukmu). Artinya apa?
Allah telah berdamai dengan manusia. Dan perempuan-perempuan ini menjadi saksi atas perdamaian itu. “Jangan takut….”. Perhatikan bahwa dalam perikop ini, kata TAKUT diulang sampai tiga kali. Ini menandakan bahwa Kebangkitan Kristus adalah melenyapkan ketakutan. Ketakutan yang disebabkan oleh dosa yang mengikat dan mengkungkungi umat manusia.

Peristiwa Kebangkitan adalah peristiwa dimana Allah didalam Kristus telah mengalahkan kematian dan dosa. Peristiwa dimana Allah memberi kedamaian bagi manusia. Damai akan terasa apabila pengampunan itu ia terima. Seseorang akan merasa damai apabila dia di beri keampunan.
Itulah sebabnya Ketakutan diubah menjadi damai dan orang dapat bersukacita.  Damai itu diberikan. Itulah sebabnya perempuan2 itu bergegas dengan penuh sukacita untuk meneruskan berita dan kesaksian Kebangkitan ini kepada seluruh murid. Berita yang membahagiakan. Berita yang membawa damai. Berita yang menghidupkan. Kalau sebelumnya mereka seperti mati, takut, tidak ada sikacita dan damai serta tidak bisa berbuat apa-apa setelah kematian Yesus, kini sukacita dan kehidupan baru mereka miliki.
Itulah berita Kebangkitan bagi kita. Allah didalam Kristus tidak ada lagi di kubur. Kini Dia telah bangkit mengalahkan cengkeraman ketakutan dan dosa. Dia memberikan sukacita dan hidup baru. Itulah yang kiranya harus terus menjadi berita bagi dunia. Berita yang terus dibawa oleh kita sebagai gereja. Sebuah berita yang menghidupkan.  Berita yang membawa damai dan sukacita.
Berita yang menghidupkan adalah berita yang bukan hanya milik satu atau dua orang saja (Dua perempuan itu saja) tetapi berita untuk semua orang. Ketika yang lain merasa hidupnya tidak berdaya lagi dan berarti lagi, berita ini diperdengarkan kepadanya.  Berita yang membawa damai dan sukacita itu seperti  yang sudah diumpamakan Yesus tentang pengampunan. Pengampunan akhirnya melahirkan kedamaian.

Peristiwa Paskah bagi kita sekarang ini, bukan hanya sekedar mengatakan bahwa kubur telah kosong. Tetapi itu harus menjadi kenyataan yang riil dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang percaya. Adalah bahwa, berita pendamaian, berita kehidupan yang membawa sukacita itu harus menjadi milik semua orang.
Menarik bahwa, berita ini pertama-tama di saksikan dan diperdengarkan kepada kaum perempuan.  Kaum perempuan yang meneruskan berita ini kepada yang lain. Rupanya Tuhan mau terus memakai Kaum perempuan untuk PERTAMA-TAMA menyampaikan berita ini dalam kehidupan nyata kita.  
Bagi kaum perempuan, sudahkah atau siapkah kita meneruskan berita ini kepada bapak-bapak dan keluarga kita dan orang-orang disekitar kita?. Berita yang menghidupkan untuk semua orang. Rupanya dalam konteks ini, Kaum perempuan menjadi yang pertama menyaksikan kebangkitan itu dan pertama dalam meneruskan berita yang menghidupkan ini. Dengan harapan, dari mulut para perempuanlah berita damai dan kehidupan itu didengar dan disaksikan oleh kaum yang lain.

Menarik pula bahwa konteks zaman itu kaum laki-laki adalah kaum yang posisinya lebih tinggi dari kaum perempuan dalam kehidupan masyarakat dan agama namun ternyata berita kebangkitan pertama-tama justru disaksikan oleh kaum perempuan. Hal lain pula bahwa dalam kondisi masyarakat yang lebih mengagungkan dan mempercayai berita dari kaum laki-laki justru berita kebangkitan dibawa oleh kaum perempuan. Dan dari merekalah berita itu terus menyebar dan menjadikan gereja bertumbuh dan kuat oleh karena berita tersebut.
Dengan demikian ternyata berita Paskah adalah berita yang meruntuhkan perbedaan “Klas Sosial” dalam masyarakat. Berita Paskah  adalah berita yang mengingatkan dengan keras bahwa kaum perempuanpun adalah kaum yang juga terlibat untuk memberitakan kehidupan. Kaum yang ikut menggerakkan sejarah gereja dan dunia. Kaum perempuanpun dipakai Tuhan dalam rencana dan karya-karya Allah.
Paskah mencelikkan mata kita semua, ternyata berita kebangkitan adalah diperuntukkan oleh semua orang, Bangsa, kelamin, Ras dan Klas social. Berita Paskah mengajak semua orang untuk bergandengan tangan dalam kasih demi menghadirkan kehidupan bersama.
Selamat Paskah. Kristus sudah bangkit, Haleluyah. Amin.

Senin, 23 April 2012

MENGIKUT YESUS BERARTI MENGUBAH CARA PANDANG HIDUP Bahan Bacaan Markus 6:30-44


Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang adalah kisah yang akrab dengan kita. Namun baiklah kita merenungkannya lagi. Dikisahkan para rasul kembali berkumpul dengan Yesus setelah mereka melaksankan tugas dari Yesus (Markus 6:6b-13). Sebelumnya memang mereka untuk beberapa waktu tidak bersama dengan Yesus karena merekapun disuruh melayani orang-orang tanpa bersama dengan Yesus.  Setelah pekerjaan dan pelayanan itu, mereka kembali berkumpul dengan Yesus. Yesus mengajak mereka untuk beristirahat di tempat yang sunyi setelah pelayanan yang mereka lakukan cukup menyita energy bahkan untuk makanpun mereka tidak sempat (Markus 6:31). Mungkin Yesus hendak mendengar laporan pekerjaan pelayanan mereka? Mungkin saja. Kita bisa membayangkan pertanyaan-pertanyaan Yesus kepada para rasul; Bagaimana rasanya melayani?, Bagaimana pengalamanmu berhadapan dengan orang-orang yang butuh pertolongan?, Apakah telingamu peka mendengar teriakan minta tolong orang lain?, Bagaimana perasaanmu melihat orang-orang yang menderita? Dan lain sebagainya. (Kita bisa berimajinasi dalam hal ini bukan?)
Dan ketika mereka bertolak dengan perahu menuju tempat yang dirasa sunyi, rupanya orang-orang melihat mereka dan orang-orang inipun bergegas mengikuti Yesus dan para rasul. Kita melihat, bagaimana antusiasme dari orang-orang ini untuk tetap menjumpai Yesus dan para rasul. Bahkan untuk segera mencapai tempat dimana Yesus dan para rasul berada, mereka rela berjalan kaki. Dan dikatakan dalam bagian Alkitab ini bahwa, orang-orang tersebut datang dari berbagai kota mereka. Penginjil Markus tidak menyampaikan apa motivasi orang-orang ini untuk mengikuti dan menjumpai Yesus dan para rasul. Tetapi kita bisa menduga bahwa mereka terdorong oleh karena hendak dekat deng Yesus yang penuh kuasa dan wibawa itu. Ditambah pula, bahwa orang-orang ini sangat terkesan pula dengan pelayanan para rasul sebelumnya ketika mereka mendapat tugas dari Yesus sebelumnya. Dorongan untuk menjumpai Yesus ini sangat kuat. Hal itu terlihat bahkan sampai hari menjelang malampun mereka tetap setia mendengar pengajaran Yesus (Ayat 34-35)
Melihat situasi ini, para rasul datang kepada Yesus dan mengusulkan kepadaNya agar orang yang sangat banyak itu disuruh pulang mengingat tidak ada makanan yang akan diberikan kepada mereka, sementara orang banyak itu pasti belum makan. Mungkin usul yang bagus tetapi kita mendapati justru Yesus menjawab usul mereka, “Kamu harus member mereka makan” (Ayat 37). Perkataan Yesus ini sepertinya menghentak para rasul karena bagaimana mungkin mereka dapat memberi makan orang sebanyak itu. Disatu sisi perbekalan yang ada tidak cukup dan disisi lain mereka sendiripun belum makan. Bagi para rasul, hal ini sangatlah tidak mungkin.
Tetapi apa yang terjadi? Bekal yang tersedia adalah Lima Roti dan Dua Ikan. Mungkin para rasul bertanya, apa yang akan kita lakukan dengan bekal yang “super” sedikit ini dibandingkan dengan orang yang sangat banyak itu yang sementara lapar dan lelah. Ini tidak mungkin!
Kemudian Yesus mengambil bekal itu. Mengucap berkat atasnya dan kemudian membagikan kepada orang banyak itu yang duduk berkelompok. 5000 orang laki-laki banyaknya, perempuan dan anak-anak belum terhitung disitu. Mereka makan sampai kenyang dan ketika dikumpulkan potongan-potongan roti itu ada dua belas bakul dan sisa-sisa ikan. Mujizat terjadi!. Hal yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin.
Dari kisah ini, paling tidak ada dua hal yang patut kita renungkan,
Pertama, Menjadi murid Tuhan adalah menjadi orang yang bukan hanya sekedar menjadi pengikut tanpa diikuti dengan perubahan gaya dan sikap hidup. Dari kisah ini kita mendapati bahwa Yesus merubah orientasi berpikir para rasul. Ketika mereka mengusulkan kepada Yesus agar orang banyak yang mengikuti mereka itu disuruh pulang agar mencari makanan, Yesus justru menyuruh para rasul untuk memberi makan. Sekalipun Yesus pasti tahu bahwa Dia dan para rasulpun belum makan hari itu ditambah lagi lelah dan penat seharian mengajar.
Disini para rasul diajak untuk tidak mengarahkan perhatian terhadap diri sendiri tetapi kini harus mengarahkan perhatian kepada orang lain. Orientasi para rasul dirubah. Dari memperhatikan perut dan diri sendiri, ke sikap hidup yang memperhatikan orang lain.
Kitapun sebagai orang percaya diajak demikian. Ketika kita mengakui bahwa kita adalah pengikut-pengikut Tuhan maka orientasi hidup kitapun seharusnya berubah. Pola piker, gaya hidup dan sikap kita pun harus berubah.
Hal ini penting. Ketika kehidupan sekarang sepertinya dipacu dengan berbagai bentuk cita-cita dan harapan, tidak dapat dipungkiri orang percaya sepertinya dibawa pada kondisi dimana untuk memperhatikan dan mempedulikan orang lain menjadi sikap yang asing. Dengan kata lain, kita sepertinya terkondisi dengan situasi “Mengamankan diri sendiri dulu, orang lain belakangan”. Dari kondisi dan sikap seperti ini, tidak jarang orang harus mengorbankan orang lain agar tujuannya tercapai lebih dulu. Orang lain tidak lagi dilihat sebagai sahabat dan teman melainkan sebagai saingan dan musuh yang harus disingkirkan. Keadaan yang sangat memprihatinkan dewasa ini manakala kepekaan terhadap realita social semakin berkurang oleh karena individualism yang merajalela.
Firman Tuhan mengingatkan kita bagaimana kehidupan orang percaya yang seharusnya adalah kehidupan yang bukan hanya untuk diri sendiri tetapi kehidupan yang berpikir dan berbuat untuk orang lain juga. Pendek kata, Paradigma “Untuk Diri Sendiri” harus berubah menjadi paradigma “Untuk Orang Lain” ketika kita menjadi pengikut Tuhan.
Yesus mengajak dan membentuk pola pikir para rasul bahwa hubungannya dengan Tuhan harus berdampak pada hubungan bersama dengan orang lain. Dengan kata lain, penghayatan hidup sebagai murid Tuhan secara vertical akan terlihat dan tercermin dalam hubungan yang horizontal. Seperti itulah seharusnya hidup kita. Kesetiaan kepada Tuhan seyogianya terimplementasi dalam kepedulian dan keprihatinan terhadap sesama.  Pdt Eka Darmaputera pernah menulis begini, “Iman yang otentik atau asli akan terlihat dalam interaksi dengan orang lain”.
Hal yang kedua yang dapat kita renungkan dari bagian Alkitab ini adalah, kelangsungan hidup umat Tuhan ada di tangan Tuhan sendiri. Bagi para rasul, bagaimana mungkin lima roti dan dua ikan dapat mengenyangkan orang yang sangat banyak itu. Disini keraguan dan kebimbangan menjadi dominan menggantikan sikap percaya kepada Yesus yang adalah Tuhan. Padahal ada sekian waktu mereka telah bersama-sama dengan Yesus. Tidak sedikit pengalaman dan peristiwa yang mereka alami dan saksikan bersama Yesus yang seharusnya menjawab keraguan dan kebimbangan itu. Tetapi peristiwa memberi makan lima ribu orang ternyata harus pula disaksikan oleh para rasul dan kepada banyak orang pula bahwa Yesus adalah Tuhan empunya kehidupan.
Realita menyaksikan kepada kita sebagai orang percaya, seringkali ketika berhadapan dengan situasi-situasi yang berurusan dengan soal perut ataupun dengan persoalan-persoalan yang genting, kita sepertinya meragukan apakah Tuhan akan bekerja dalam kehidupan kita. Seperti para rasul, sebenarnya pengalaman hidup bersama Tuhan selama ini cukup menjawab dan memberi kepastian dalam perjalanan hidup kita namun kerap keraguan dan kebimbangan dan sangsi kepadaNya datang juga. Ketika berhadapan dengan situasi yang sulit, ketika harapan dan cita-cita hidup yang sepertinya menjauh, ketika kegagalan demi kegagalan menerpa hidup kita, kita mulai sangsi apakah Tuhan masih mempedulikan kita.
Peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang ini kembali menegaskan dan menguatkan serta menyadarkan kita bahwa Dia, Tuhan selalu memperhatikan kita. Seperti orang banyak yang datang menemui Yesus itu, mereka tidak disuruh pulang. Mereka dijamu dan dipuaskan Tuhan. Harapan mereka dijawab, permintaan mereka diberikan Tuhan.
Kiranya kitapun semakin dikuatkan menjalani hidup ini bersama dengan Tuhan yang terus bekerja dalam hidup kita dan kita dimampukan untuk terus menyatakan kehadiran Tuhan itu dalam hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Amin.

Selasa, 17 April 2012

RESIKO MENGIKUT YESUS Bahan Bacaan: Matius 10:34-11:1


Mungkin kita banyak mendengar atau juga menyaksikan orang berkata, “Apabila anda mengikut Yesus maka anda akan senang” atau “Pilih Yesus maka usaha, karir dan pekerjaan anda akan sukses dan berkat melimpah ruah”.  Atau pula, “Percaya saja kepada Yesus maka tidak akan ada lagi pergumulan dalam hidupmu melainkan sukacita, keberhasilan dan kesuksesan”.
Bahkan ada semacam  “doktrin” yang berkata, “Orang Kristen yang bersedih berarti bukan orang Kristen”; “Hidup Orang Kristen adalah nyanyian gembira dan tari-tarian”. Bahkan ada yang berkata, “Tuhan itu kaya oleh karena itu mana mungkin orang Kristen harus hidup miskin”. Wah makin membingungkan saja. Pendek kata, bila menjadi pengikut Kristus (Orang Kristen), itu berarti senang, gembira dan sukaria dalam hidup ini. Apakah demikian?
Kontras dengan hal itu, justru Yesus menasehatkan kepada para murid bahwa, oleh karena Dia para murid akan berhadapan dengan bahaya, mereka bisa saja digiring oleh para penguasa. Mereka bisa saja disesah, dibenci, dianiaya bahkan dibunuh. Dengan kata lain, hal mengikut Yesus adalah menjalani kehidupan yang sarat dengan tantangan dan pergumulan. Itulah yang disampaikan Yesus dalam Matius 10:16-33. Dan bagaimana pula yang dituturkan oleh Penginjil Matius dalam Pasal 10:34-11:1 ini?
Bagian ini merupakan bagian nasehat yang disampaikan Yesus kepada para murid. Dimana para murid ditegaskan kembali  bahwa konsekuensi  menjadi pengikut Yesus tidaklah mudah. Mengapa? . Mereka akan terpisah dengan keluarga mereka sendiri;  Ayah, Ibu, Anak, Menantu dan Mertua (Pasal 10:35). Kondisi ini mungkin konsekuensi yang berat yang bakal diterima oleh para murid ketika mengikut Yesus, mengingat para murid yang adalah orang Yahudi sangat menyanjung tinggi hubungan kekerabatan dan kekeluargaan. Keberadaan  Keluarga merupakan salah satu identitas dan jatidiri orang Yahudi, yang dengannya berpengaruh pada status dan hubungan social. Hal ini berakar kuat dan tidak begitu mudah untuk dilepaskan.
Bagi orang Yahudi, hidup terpisah dengan keluarga itu berarti memutuskan hubungan saudara dan bisa saja garis keturunan. Itu berarti pula Pengasingan. Pengasingan sama dengan penderitaan. Itu berat. Kemudian lagi Yesus menambahkan, hal layak tidaknya seseorang menjadi pengikut Yesus, itu dilihat dari seberapa besar kasih orang itu kepada Tuhan dibandingkan kasih orang itu terhadap orang tuanya (Ayat 37). Lagi-lagi para murid harus berbenturan dengan apa yang diutamakan oleh orang Yahudi dalam ikatan kekeluargaan yaitu sikap hormat dan mengasihi orang tua adalah perbuatan yang sangat mengharagai Hukum Tuhan (Bnd. Hukum ke 5 dalam Keluaran 20:12).
Dan lagi, tentang kelayakan mengikut Dia Yesus berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiku”. Memanggul salib itu sama dengan menerima resiko yang sangat berat baik secara fisik maupun psikis. Salib bagi orang Yahudi adalah tanda kehinaan, Penghukuman, kutukan dan itu berarti penderitaan yang amat sangat.
Sampai disini kita mendapati ternyata mengikut Yesus bukanlah perkara yang mudah seperti kita membalikkan telapak tangan. Menjadi orang percaya dan menyebut diri sebagai pengikut Kristus bukanlah persoalan yang gampang.
Kita bisa membayangkan apa yang mungkin ada di benak para murid. Mereka berpikir dengan menjadi murid dan pengikut Yesus mereka bisa menikmati apa yang mereka harapkan selama ini. Suatu harapan yang selama ini terpendam di zaman itu yaitu Pengharapan Kerajaan Mesianik. Pengharapan dalam mana akan terwujudnya suatu kerajaan damai yang diperintah oleh seorang keturunan Raja Daud yang dengannya dapat membebaskan dan memulihkan keadaan orang-orang Yahudi dari penjajahan dan kekuasaan Romawi. Yesus dipahami sebagai Mesias yang akan mengembalikan kejayaan kerajaan Israel seperti pada zaman Raja Daud. Dengan demikian pikir mereka, para pengikut Yesus akan secara otomatis menjadi orang-orang terdekatNya dalam pemerintahan dan hidup tenang, senang dan damai akan menjadi milik mereka. Ternyata suatu harapan yang bertolak belakang dengan kenyataan ketika bersama dengan Yesus.
Seperti para murid, kitapun kadang-kadang berpikir bahwa asal mengikut Yesus berarti senang, tenang dan aman. Tidak adalah masalah, tidak ada pergumulan, tidak ada penderitaan dan sebagainya. Rupanya kita keliru.
Menjadi pengikut Yesus justru mempunyai konsekuensi dan resiko yang berat dan besar. Hidup bersama dan mengikut Yesus ternyata tidak seperti berjalan di jalan yang mulus dan tandas tetapi justru seperti berjalan di jalan yang berbatu tajam, terjal, curam dan bergunung-gunung. Jalan yang melelahkan dan bisa saja membosankan. Bukankah kita lebih suka berjalan dijalan yang mulus tanpa berbatu?.
Mengikut Yesus ternyata resiko yang harus diambil adalah rela melepaskan keterikatan-keterikatan yang lama yang sepertinya membuat kita nyaman dan kini mengikatkan diri sepenuhnya kepada Yesus. Mengambil resiko ini tidaklah gampang manakala kita tidak siap untuk menerima kepahitan dan penderitaan.
Dan hal menantang lainnya yang dikatakan Yesus kepada para murid adalah ketika ia berkata, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiku”. Hal ini dimaksudkanNya bahwa komitmen dan kesungguhan untuk mengikut Dia melampau dari ikatan-ikatan yang kuat dan komitmen yang lain yang ada dalam hidup para murid. Disini bukan maksud Yesus agar orang tidak lagi menghormati orang tua, mengasihi saudara dan keluarga manakala mengikut Dia, tetapi Yesus mau membuka pengertian mereka bahwa apabila hubungan kekeluargaan itu adalah hubungan yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi, maka hal mengikut Yesus adalah lebih tinggi dari semua itu. Seperti itulah yang diingankan Yesus kepada kita manakala kita mau serius mengikut Dia.
Dari sini kita mendapati ternyata, hal mengikut Yesus penuh resiko. Berhadapan dengan pergumulan, penderitaan dan kepahitan hidup lainnya. Dan benar Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa mengikut Dia, anda akan mengalami sukses besar, untung berlipat ganda dan tak ada tangisan.
Dari Firman Tuhan ini, kita juga mendapati bahwa menjadi pengikut Yesus ternyata membutuhkan kesungguhan, komitmen dan pengorbanan yang besar. Pengalaman sering menyaksikan kepada kita bagaimana kita sebagai orang Kristen kerap kali menyatakan kesungguhan dan komitmen mengikut Dia manakala kenyataan-kenyataan hidup  kita bersesuaian dengan apa yang kita harapkan. Dan ketika apa yang kita harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, kita kecewa, menggerutu bahkan komitmen dan kesungguhan mengikut Dia menjadi kendor. Dengan kata lain, komitmen dan kesungguhan sebagai orang percaya sering bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi dan alami.
Firman Tuhan pula mengingatkan kita bahwa Komitmen yang kuat dan kesungguhan mengikut Yesus akan tercermin dalam  hidup orang percaya yang diwarnai dengan semangat mengasihi dan menghidupkan orang lain (Ayat 40-42). Ini berarti komitmen dan kesungguhan mengikut Yesus sekalipun beresiko harus pula berdampak dalam tindakan-tindakan dan karya yang menghidupkan. Dengan mengikut Yesus, pandangan kita bukan hanya tertuju pada kita dan bagaimana nasib kita tetapi juga diajak untuk memandang orang lain dan memikirkan nasibnya secara bersama.
Ternyata mengikut Yesus bukanlah hal yang mudah dan yang  selalu identik dengan kesenangan dan kegembiraan. Mengikut Yesus sangatlah beresiko namun itulah yang yang harus kita jalani. Menjalaninya dengan penuh syukur dalam kepastian “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Matius 10:22).
Tuhan kiranya memampukan kita. Amin.