Khotbah, Renungan Kristen, Bacaan Alkitab, Artikel, Berita

Senin, 23 April 2012

MENGIKUT YESUS BERARTI MENGUBAH CARA PANDANG HIDUP Bahan Bacaan Markus 6:30-44


Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang adalah kisah yang akrab dengan kita. Namun baiklah kita merenungkannya lagi. Dikisahkan para rasul kembali berkumpul dengan Yesus setelah mereka melaksankan tugas dari Yesus (Markus 6:6b-13). Sebelumnya memang mereka untuk beberapa waktu tidak bersama dengan Yesus karena merekapun disuruh melayani orang-orang tanpa bersama dengan Yesus.  Setelah pekerjaan dan pelayanan itu, mereka kembali berkumpul dengan Yesus. Yesus mengajak mereka untuk beristirahat di tempat yang sunyi setelah pelayanan yang mereka lakukan cukup menyita energy bahkan untuk makanpun mereka tidak sempat (Markus 6:31). Mungkin Yesus hendak mendengar laporan pekerjaan pelayanan mereka? Mungkin saja. Kita bisa membayangkan pertanyaan-pertanyaan Yesus kepada para rasul; Bagaimana rasanya melayani?, Bagaimana pengalamanmu berhadapan dengan orang-orang yang butuh pertolongan?, Apakah telingamu peka mendengar teriakan minta tolong orang lain?, Bagaimana perasaanmu melihat orang-orang yang menderita? Dan lain sebagainya. (Kita bisa berimajinasi dalam hal ini bukan?)
Dan ketika mereka bertolak dengan perahu menuju tempat yang dirasa sunyi, rupanya orang-orang melihat mereka dan orang-orang inipun bergegas mengikuti Yesus dan para rasul. Kita melihat, bagaimana antusiasme dari orang-orang ini untuk tetap menjumpai Yesus dan para rasul. Bahkan untuk segera mencapai tempat dimana Yesus dan para rasul berada, mereka rela berjalan kaki. Dan dikatakan dalam bagian Alkitab ini bahwa, orang-orang tersebut datang dari berbagai kota mereka. Penginjil Markus tidak menyampaikan apa motivasi orang-orang ini untuk mengikuti dan menjumpai Yesus dan para rasul. Tetapi kita bisa menduga bahwa mereka terdorong oleh karena hendak dekat deng Yesus yang penuh kuasa dan wibawa itu. Ditambah pula, bahwa orang-orang ini sangat terkesan pula dengan pelayanan para rasul sebelumnya ketika mereka mendapat tugas dari Yesus sebelumnya. Dorongan untuk menjumpai Yesus ini sangat kuat. Hal itu terlihat bahkan sampai hari menjelang malampun mereka tetap setia mendengar pengajaran Yesus (Ayat 34-35)
Melihat situasi ini, para rasul datang kepada Yesus dan mengusulkan kepadaNya agar orang yang sangat banyak itu disuruh pulang mengingat tidak ada makanan yang akan diberikan kepada mereka, sementara orang banyak itu pasti belum makan. Mungkin usul yang bagus tetapi kita mendapati justru Yesus menjawab usul mereka, “Kamu harus member mereka makan” (Ayat 37). Perkataan Yesus ini sepertinya menghentak para rasul karena bagaimana mungkin mereka dapat memberi makan orang sebanyak itu. Disatu sisi perbekalan yang ada tidak cukup dan disisi lain mereka sendiripun belum makan. Bagi para rasul, hal ini sangatlah tidak mungkin.
Tetapi apa yang terjadi? Bekal yang tersedia adalah Lima Roti dan Dua Ikan. Mungkin para rasul bertanya, apa yang akan kita lakukan dengan bekal yang “super” sedikit ini dibandingkan dengan orang yang sangat banyak itu yang sementara lapar dan lelah. Ini tidak mungkin!
Kemudian Yesus mengambil bekal itu. Mengucap berkat atasnya dan kemudian membagikan kepada orang banyak itu yang duduk berkelompok. 5000 orang laki-laki banyaknya, perempuan dan anak-anak belum terhitung disitu. Mereka makan sampai kenyang dan ketika dikumpulkan potongan-potongan roti itu ada dua belas bakul dan sisa-sisa ikan. Mujizat terjadi!. Hal yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin.
Dari kisah ini, paling tidak ada dua hal yang patut kita renungkan,
Pertama, Menjadi murid Tuhan adalah menjadi orang yang bukan hanya sekedar menjadi pengikut tanpa diikuti dengan perubahan gaya dan sikap hidup. Dari kisah ini kita mendapati bahwa Yesus merubah orientasi berpikir para rasul. Ketika mereka mengusulkan kepada Yesus agar orang banyak yang mengikuti mereka itu disuruh pulang agar mencari makanan, Yesus justru menyuruh para rasul untuk memberi makan. Sekalipun Yesus pasti tahu bahwa Dia dan para rasulpun belum makan hari itu ditambah lagi lelah dan penat seharian mengajar.
Disini para rasul diajak untuk tidak mengarahkan perhatian terhadap diri sendiri tetapi kini harus mengarahkan perhatian kepada orang lain. Orientasi para rasul dirubah. Dari memperhatikan perut dan diri sendiri, ke sikap hidup yang memperhatikan orang lain.
Kitapun sebagai orang percaya diajak demikian. Ketika kita mengakui bahwa kita adalah pengikut-pengikut Tuhan maka orientasi hidup kitapun seharusnya berubah. Pola piker, gaya hidup dan sikap kita pun harus berubah.
Hal ini penting. Ketika kehidupan sekarang sepertinya dipacu dengan berbagai bentuk cita-cita dan harapan, tidak dapat dipungkiri orang percaya sepertinya dibawa pada kondisi dimana untuk memperhatikan dan mempedulikan orang lain menjadi sikap yang asing. Dengan kata lain, kita sepertinya terkondisi dengan situasi “Mengamankan diri sendiri dulu, orang lain belakangan”. Dari kondisi dan sikap seperti ini, tidak jarang orang harus mengorbankan orang lain agar tujuannya tercapai lebih dulu. Orang lain tidak lagi dilihat sebagai sahabat dan teman melainkan sebagai saingan dan musuh yang harus disingkirkan. Keadaan yang sangat memprihatinkan dewasa ini manakala kepekaan terhadap realita social semakin berkurang oleh karena individualism yang merajalela.
Firman Tuhan mengingatkan kita bagaimana kehidupan orang percaya yang seharusnya adalah kehidupan yang bukan hanya untuk diri sendiri tetapi kehidupan yang berpikir dan berbuat untuk orang lain juga. Pendek kata, Paradigma “Untuk Diri Sendiri” harus berubah menjadi paradigma “Untuk Orang Lain” ketika kita menjadi pengikut Tuhan.
Yesus mengajak dan membentuk pola pikir para rasul bahwa hubungannya dengan Tuhan harus berdampak pada hubungan bersama dengan orang lain. Dengan kata lain, penghayatan hidup sebagai murid Tuhan secara vertical akan terlihat dan tercermin dalam hubungan yang horizontal. Seperti itulah seharusnya hidup kita. Kesetiaan kepada Tuhan seyogianya terimplementasi dalam kepedulian dan keprihatinan terhadap sesama.  Pdt Eka Darmaputera pernah menulis begini, “Iman yang otentik atau asli akan terlihat dalam interaksi dengan orang lain”.
Hal yang kedua yang dapat kita renungkan dari bagian Alkitab ini adalah, kelangsungan hidup umat Tuhan ada di tangan Tuhan sendiri. Bagi para rasul, bagaimana mungkin lima roti dan dua ikan dapat mengenyangkan orang yang sangat banyak itu. Disini keraguan dan kebimbangan menjadi dominan menggantikan sikap percaya kepada Yesus yang adalah Tuhan. Padahal ada sekian waktu mereka telah bersama-sama dengan Yesus. Tidak sedikit pengalaman dan peristiwa yang mereka alami dan saksikan bersama Yesus yang seharusnya menjawab keraguan dan kebimbangan itu. Tetapi peristiwa memberi makan lima ribu orang ternyata harus pula disaksikan oleh para rasul dan kepada banyak orang pula bahwa Yesus adalah Tuhan empunya kehidupan.
Realita menyaksikan kepada kita sebagai orang percaya, seringkali ketika berhadapan dengan situasi-situasi yang berurusan dengan soal perut ataupun dengan persoalan-persoalan yang genting, kita sepertinya meragukan apakah Tuhan akan bekerja dalam kehidupan kita. Seperti para rasul, sebenarnya pengalaman hidup bersama Tuhan selama ini cukup menjawab dan memberi kepastian dalam perjalanan hidup kita namun kerap keraguan dan kebimbangan dan sangsi kepadaNya datang juga. Ketika berhadapan dengan situasi yang sulit, ketika harapan dan cita-cita hidup yang sepertinya menjauh, ketika kegagalan demi kegagalan menerpa hidup kita, kita mulai sangsi apakah Tuhan masih mempedulikan kita.
Peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang ini kembali menegaskan dan menguatkan serta menyadarkan kita bahwa Dia, Tuhan selalu memperhatikan kita. Seperti orang banyak yang datang menemui Yesus itu, mereka tidak disuruh pulang. Mereka dijamu dan dipuaskan Tuhan. Harapan mereka dijawab, permintaan mereka diberikan Tuhan.
Kiranya kitapun semakin dikuatkan menjalani hidup ini bersama dengan Tuhan yang terus bekerja dalam hidup kita dan kita dimampukan untuk terus menyatakan kehadiran Tuhan itu dalam hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Amin.

Selasa, 17 April 2012

RESIKO MENGIKUT YESUS Bahan Bacaan: Matius 10:34-11:1


Mungkin kita banyak mendengar atau juga menyaksikan orang berkata, “Apabila anda mengikut Yesus maka anda akan senang” atau “Pilih Yesus maka usaha, karir dan pekerjaan anda akan sukses dan berkat melimpah ruah”.  Atau pula, “Percaya saja kepada Yesus maka tidak akan ada lagi pergumulan dalam hidupmu melainkan sukacita, keberhasilan dan kesuksesan”.
Bahkan ada semacam  “doktrin” yang berkata, “Orang Kristen yang bersedih berarti bukan orang Kristen”; “Hidup Orang Kristen adalah nyanyian gembira dan tari-tarian”. Bahkan ada yang berkata, “Tuhan itu kaya oleh karena itu mana mungkin orang Kristen harus hidup miskin”. Wah makin membingungkan saja. Pendek kata, bila menjadi pengikut Kristus (Orang Kristen), itu berarti senang, gembira dan sukaria dalam hidup ini. Apakah demikian?
Kontras dengan hal itu, justru Yesus menasehatkan kepada para murid bahwa, oleh karena Dia para murid akan berhadapan dengan bahaya, mereka bisa saja digiring oleh para penguasa. Mereka bisa saja disesah, dibenci, dianiaya bahkan dibunuh. Dengan kata lain, hal mengikut Yesus adalah menjalani kehidupan yang sarat dengan tantangan dan pergumulan. Itulah yang disampaikan Yesus dalam Matius 10:16-33. Dan bagaimana pula yang dituturkan oleh Penginjil Matius dalam Pasal 10:34-11:1 ini?
Bagian ini merupakan bagian nasehat yang disampaikan Yesus kepada para murid. Dimana para murid ditegaskan kembali  bahwa konsekuensi  menjadi pengikut Yesus tidaklah mudah. Mengapa? . Mereka akan terpisah dengan keluarga mereka sendiri;  Ayah, Ibu, Anak, Menantu dan Mertua (Pasal 10:35). Kondisi ini mungkin konsekuensi yang berat yang bakal diterima oleh para murid ketika mengikut Yesus, mengingat para murid yang adalah orang Yahudi sangat menyanjung tinggi hubungan kekerabatan dan kekeluargaan. Keberadaan  Keluarga merupakan salah satu identitas dan jatidiri orang Yahudi, yang dengannya berpengaruh pada status dan hubungan social. Hal ini berakar kuat dan tidak begitu mudah untuk dilepaskan.
Bagi orang Yahudi, hidup terpisah dengan keluarga itu berarti memutuskan hubungan saudara dan bisa saja garis keturunan. Itu berarti pula Pengasingan. Pengasingan sama dengan penderitaan. Itu berat. Kemudian lagi Yesus menambahkan, hal layak tidaknya seseorang menjadi pengikut Yesus, itu dilihat dari seberapa besar kasih orang itu kepada Tuhan dibandingkan kasih orang itu terhadap orang tuanya (Ayat 37). Lagi-lagi para murid harus berbenturan dengan apa yang diutamakan oleh orang Yahudi dalam ikatan kekeluargaan yaitu sikap hormat dan mengasihi orang tua adalah perbuatan yang sangat mengharagai Hukum Tuhan (Bnd. Hukum ke 5 dalam Keluaran 20:12).
Dan lagi, tentang kelayakan mengikut Dia Yesus berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiku”. Memanggul salib itu sama dengan menerima resiko yang sangat berat baik secara fisik maupun psikis. Salib bagi orang Yahudi adalah tanda kehinaan, Penghukuman, kutukan dan itu berarti penderitaan yang amat sangat.
Sampai disini kita mendapati ternyata mengikut Yesus bukanlah perkara yang mudah seperti kita membalikkan telapak tangan. Menjadi orang percaya dan menyebut diri sebagai pengikut Kristus bukanlah persoalan yang gampang.
Kita bisa membayangkan apa yang mungkin ada di benak para murid. Mereka berpikir dengan menjadi murid dan pengikut Yesus mereka bisa menikmati apa yang mereka harapkan selama ini. Suatu harapan yang selama ini terpendam di zaman itu yaitu Pengharapan Kerajaan Mesianik. Pengharapan dalam mana akan terwujudnya suatu kerajaan damai yang diperintah oleh seorang keturunan Raja Daud yang dengannya dapat membebaskan dan memulihkan keadaan orang-orang Yahudi dari penjajahan dan kekuasaan Romawi. Yesus dipahami sebagai Mesias yang akan mengembalikan kejayaan kerajaan Israel seperti pada zaman Raja Daud. Dengan demikian pikir mereka, para pengikut Yesus akan secara otomatis menjadi orang-orang terdekatNya dalam pemerintahan dan hidup tenang, senang dan damai akan menjadi milik mereka. Ternyata suatu harapan yang bertolak belakang dengan kenyataan ketika bersama dengan Yesus.
Seperti para murid, kitapun kadang-kadang berpikir bahwa asal mengikut Yesus berarti senang, tenang dan aman. Tidak adalah masalah, tidak ada pergumulan, tidak ada penderitaan dan sebagainya. Rupanya kita keliru.
Menjadi pengikut Yesus justru mempunyai konsekuensi dan resiko yang berat dan besar. Hidup bersama dan mengikut Yesus ternyata tidak seperti berjalan di jalan yang mulus dan tandas tetapi justru seperti berjalan di jalan yang berbatu tajam, terjal, curam dan bergunung-gunung. Jalan yang melelahkan dan bisa saja membosankan. Bukankah kita lebih suka berjalan dijalan yang mulus tanpa berbatu?.
Mengikut Yesus ternyata resiko yang harus diambil adalah rela melepaskan keterikatan-keterikatan yang lama yang sepertinya membuat kita nyaman dan kini mengikatkan diri sepenuhnya kepada Yesus. Mengambil resiko ini tidaklah gampang manakala kita tidak siap untuk menerima kepahitan dan penderitaan.
Dan hal menantang lainnya yang dikatakan Yesus kepada para murid adalah ketika ia berkata, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiku”. Hal ini dimaksudkanNya bahwa komitmen dan kesungguhan untuk mengikut Dia melampau dari ikatan-ikatan yang kuat dan komitmen yang lain yang ada dalam hidup para murid. Disini bukan maksud Yesus agar orang tidak lagi menghormati orang tua, mengasihi saudara dan keluarga manakala mengikut Dia, tetapi Yesus mau membuka pengertian mereka bahwa apabila hubungan kekeluargaan itu adalah hubungan yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi, maka hal mengikut Yesus adalah lebih tinggi dari semua itu. Seperti itulah yang diingankan Yesus kepada kita manakala kita mau serius mengikut Dia.
Dari sini kita mendapati ternyata, hal mengikut Yesus penuh resiko. Berhadapan dengan pergumulan, penderitaan dan kepahitan hidup lainnya. Dan benar Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa mengikut Dia, anda akan mengalami sukses besar, untung berlipat ganda dan tak ada tangisan.
Dari Firman Tuhan ini, kita juga mendapati bahwa menjadi pengikut Yesus ternyata membutuhkan kesungguhan, komitmen dan pengorbanan yang besar. Pengalaman sering menyaksikan kepada kita bagaimana kita sebagai orang Kristen kerap kali menyatakan kesungguhan dan komitmen mengikut Dia manakala kenyataan-kenyataan hidup  kita bersesuaian dengan apa yang kita harapkan. Dan ketika apa yang kita harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, kita kecewa, menggerutu bahkan komitmen dan kesungguhan mengikut Dia menjadi kendor. Dengan kata lain, komitmen dan kesungguhan sebagai orang percaya sering bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi dan alami.
Firman Tuhan pula mengingatkan kita bahwa Komitmen yang kuat dan kesungguhan mengikut Yesus akan tercermin dalam  hidup orang percaya yang diwarnai dengan semangat mengasihi dan menghidupkan orang lain (Ayat 40-42). Ini berarti komitmen dan kesungguhan mengikut Yesus sekalipun beresiko harus pula berdampak dalam tindakan-tindakan dan karya yang menghidupkan. Dengan mengikut Yesus, pandangan kita bukan hanya tertuju pada kita dan bagaimana nasib kita tetapi juga diajak untuk memandang orang lain dan memikirkan nasibnya secara bersama.
Ternyata mengikut Yesus bukanlah hal yang mudah dan yang  selalu identik dengan kesenangan dan kegembiraan. Mengikut Yesus sangatlah beresiko namun itulah yang yang harus kita jalani. Menjalaninya dengan penuh syukur dalam kepastian “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Matius 10:22).
Tuhan kiranya memampukan kita. Amin.

Rabu, 11 April 2012

KETAATAN DAN KESETIAAN DALAM IMAN ADALAH WUJUD KEHIDUPAN ORANG KRISTEN Bahan Bacaan : Wahyu 13:11-18


Orang berkata, “Jangan melawan arus, nanti arus itu akan menyeret kita”. “ Semakin kita melawan arus maka kita  akan semakin terseret oleh arus itu dan membuat kita tidak berdaya”. Dan ungkapan itu bukan sebatas ungkapan semata tetapi kini telah menjadi sebuah filosofi yang sepertinya menghipnotis semua orang ketika berlomba untuk menggapai tujuan hidup. Sementara  harapan yang hendak diraih itupun menjadi incaran orang lain. Dalam kondisi itu, “apa boleh buat, buat apa yang boleh”. Begitu kita mendengar argumentasi orang dalam rangka supaya tetap bertahan di tengah situasi yang semakin sulit.
Dengan kata lain, kesulitan yang dihadapi sering mengantar orang untuk berbuat apa saja demi keluar dari kesulitan tersebut. Tidak peduli apakah sikap dan tindakan yang diambil tersebut masih bersesuaian dengan karakter, keluhuran hati  yang mulia dan identitas yang dimiliki atau justru bertentangan.
Berbicara soal kesulitan dan bagaimana bertahan  hidup ditengah kesulitan itu sambil mempertahankan karakter dan jati dirinya, orang Kristen di abad-abad pertama telah mengalaminya. Penglihatan Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu mengetengahkan kepada kita bagaimana kehidupan yang dialami oleh orang-orang Kristen itu. Mereka hadir ditengah dunia yang kejam dan beringas. Ketika gereja mulai bertumbuh, ia hadir ditengah situasi yang berat dan menyulitkan perkembangannya. Keadaan orang-orang percaya itu disimbolkan seperti penderitaan perempuan yang mengandung dan melahirkan (Wahyu 12:2, 13-18). Suatu gambaran penderitaan yang sangat berat. Proses melahirkan selalu digambarkan orang sebagai peristiwa dimana antara kehidupan dan kematian hadir berdampingan. Pendeknya antara hidup dan mati.
Seperti itulah yang dialami oleh orang-orang Kristen di abad pertama. Tekanan dan penindasan bahkan penganiayaan dan pembunuhan menjadi warna hidup mereka. Mengapa hal itu terjadi?. Penguasa Romawi dalam hal ini Kaisar Roma yang disimbolkan sebagai binatang yang keluar dari dalam bumi telah menetapkan dirinya sebagai dewa dan Tuhan. Semua orang harus menyembah dia. Mereka yang tidak menyembah dibunuh (Ayat 15). Bahkan untuk meyakinkan semua orang bahwa ia berkuasa dan tidak ada yang dapat menandinginya, ada banyak tanda yang dasyat yang ditunjukannya. Semua orang harus menyembah dia tidak ada yang terkecuali termasuk orang Kristen. Dan kemudian mereka yang menyembah Kaisar di beri tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya. Tanda dalam mana mereka terhisab dalam komunitas penyembah binatang itu (Kaisar Roma). Mereka yang tidak ditandai, itu berarti termasuk dalam kelompok yang tidak mengakui keilahian dan kekuasaan binatang itu.
Kelompok inilah orang percaya (Orang Kristen). Komitmen mereka bahwa hanya Yesus Kristuslah yang pantas dan layak disembah karena Dialah Tuhan. Itulah sebabnya mereka tidak menyembah Kaisar dan tidak menyebutnya sebagai Tuhan. Konsekuensi dari sikap dan prinsip iman inilah orang Kristen mengalami penganiayaan yang hebat dan sangat mengerikan.  Sejarah Gereja mencatat bagaimana orang-orang Kristen yang tetap setia mempertahankan imannya harus dibakar hidup-hidup, ada yang diadu dengan binatang buas di gelanggang olahraga dan menjadi tontonan dan lain sebagainya.
Bagian Alkitab yang menjadi pokok perenungan kita saat ini hendak menyadarkan kita kembali bahwa sesungguhnya perjalanan hidup sebagai orang percaya adalah suatu perjalanan yang sarat dengan berbagai tantangan dan pergumulan. Suatu perjalanan yang menuntut ketangguhan iman ditengah kuatnya godaan dan tawaran dunia serta hebatnya ancaman untuk meninggalkan kepercayaan dan komitmen kepada Yesus Kristus.
Bagi kita sekarang, mungkin kita tidak mengalami peristiwa yang persis sama dengan apa yang dialami oleh gereja yang masih muda di zaman yang dilihat oleh Rasul Yohanes. Dimana “Binatang” yang menjadi symbol dari penindasan, penganiayaan dan pembunuhan merajalela. Akan tetapi sadar ataupun tidak sadar sesungguhnya kitapun berada ditengah situasi dimana “binatang” yang merupakan personifikasi dari Si Jahat itu kini hadir dengan berbagai bentuk yang berbeda dan menantang komitmen kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Dia bisa hadir dalam sebuah kursi yang terus diperebutkan, dia bisa hadir dalam konteks pekerjaan dan karir yang dalam proses perebutan itu nilai-nilai kristiani menjadi daftar terakhir criteria sikap dan tindakan demi sebuah tujuan. Ketika ingin mempertahankan kuasa, karir, kemapanan materi dan sebagainya, ia bisa menjelma dalam wibawa dan kekuatan yang menindas. Ketika untuk mencapai suatu tujuan, orang terpaksa harus menyingkirkan orang lain. Tidak peduli apakah cara yang dilakukan itu baik atau tidak. Komitmen iman menjadi hal terakhir setelah tujuan yang utama.
Demi terbebas dari berbagai persoalan dan permasalahan kehidupan, orang memilih jalan keluarnya sendiri tanpa mendengarkan kata Tuhan. Bahkan tidak jarang perkataan dan Instruksi “Atasan” atau “Bos” itu lebih penting demi karir dari pada pesan Firman. Dan demi demi yang lain.
Disinilah letak tantangan yang besar bagi orang percaya saat ini. Tawaran dan godaan dunia seperti gelombang besar yang siap menggulung dan ibarat arus yang kuat dan berputar yang siap mengantar pada pusaran air hingga ke dasar yang terdalam. Pada saat yang sama identitas dan jati diri kekristenan mendapat pertanyaan yang besar.
Dan ketika orang berkata, “Jangan melawan arus”,  justru Firman Tuhan berkata, “Yang penting disini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana…” (ayat 18). Dalam konteks ini, justru orang percaya harus berani melawan arus. Karena di zaman itu Arus itu adalah keharusan menyembah sang binatang;  Arus itu adalah diberi tanda pada tangan kanan dan dahi supaya dihisabkan kepada kelompok yang bisa lolos dari ancaman pembunuhan. Dalam hal ini, orang Kristen harus menolaknya.
Dengan perkataan lain, orang lain bisa saja hidup dengan sikap dan karakter “Mengikuti Arus” tetapi orang percaya harus tidak seperti itu. Orang Percaya harus tampil beda. Tampil dengan tampilan yang tidak menjadi sama dengan apa yang ditawarkan dunia. Rasul Paulus berkata dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.
Firman Tuhan mengajak kita untuk menjadi orang-orang percaya yang waspada terhadap tawaran-tawaran iblis yang sangat menarik dan pada saat yang sama kesetiaan kepada Yesus Kristus sumber kehidupan harus tetap dipertahankan dalam berbagai segi kehidupan kita. Mungkin kita akan lebih banyak mengalami berbagai pergumulan, kesulitan dan berbagai harapan yang sepertinya belum tercapai oleh karena komitmen dan kesetiaan kita kepada Tuhan. Tetapi keyakinan kita dikuatkan ketika menghadapi berbagai tekanan hidup dan pergumulan, ditengah tawaran dunia yang menarik dan sangat memikat,  seperti yang dikatakan dalam Yakobus 1:12 “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia”.
Kita diingatkan bahwa kesetiaan itu harus sampai pada akhir hidup kita. Pdt Eka Darmaputera mengilustrasikan kesetiaan ditengah tantangan dan tawaran dunia itu  begini, “Orang Kristen ibaratnya berada dalam sebuah pertandingan. Dalam pertandingan di babak-babak penyisihan, kita banyak mengalami kemenangan bahkan kemenangan telak. Tetapi ketika masuk pada babak Big Match yang adalah pertarungan hidup mati, kita kalah. Dengan demikian sia-sialah usaha kita sejak awal bila pada akhirnya toh kita dikalahkan”.
Sebagai orang percaya kita terus diingatkan bahwa sesulit apapun hidup ini dan semanis apapun tawaran dunia yang pada akhirnya hendak memudarkan ketaatan kita kepada Tuhan biarlah kita kuat dan tetap setia kepada Tuhan. Kiranya Tuhan terus memampukan kita.    Amin.

Sabtu, 07 April 2012

Sabtu Sunyi


SABTU SUNYI
Malam itu,..ya malam itu…malam yang cukup melelahkan…
Seharian aku harus mengikuti Dia,
Bukan hanya aku, teman-temanku juga merasakan kelelahan yang amat sangat..
Waktu Dia mengajak kami ke Taman itu…ah..kakiku sangat pegal, otot-ototku sepertinya hendak lepas dan mata ini tidak dapat lagi diperintah untuk tetap terbuka..

Tapi….
Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?
Kenapa aku tidak tetap siuman untuk melihat peristiwa itu?...
Kalau saja aku tetap terjaga…. Aku dapat melihat dan mencegah dia yang datang menyerahkan Guru…

Ah….kenapa aku ini?...
Sekarang… Guru tidak ada lagi…
Ah…aku malu…
Malam itu aku tidak dapat mencegah dia yang menyerahkan Guru

Tapi.. bukankah aku mempunyai kesempatan yang lain untuk membuktikan bahwa aku memang muridNya?
Saat seorang hamba perempuan mendekat dan bertanya bahwa apakah aku salah seorang dari antara para murid….
Ah… aku menjadi gugup….Kenapa aku mengatakan tidak kepada perempuan itu?

Dan kesempatan kedua datang, seorang datang menghampriku dan bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Ah….. tapi kenapa aku tidak menjawab dengan jujur? …Betapa bodohnya aku..

Dan ketika orang-orang datang bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama, .….  Ah..aku menjadi pengecut dan pecundang.  Aku bersumpah tidak mengenal Dia.
Kenapa aku begitu bodoh?....

Aku hanya mampu menatapNya dari jauh….
Cambuk itu…ya cambuk itu menghantam tubuhNya..
Erangan sakitNya kudengar ketika para algojo bergantian memukulnya….
Dan….darah itu ,mulai bercucuran….mukaNya sudah tidak jelas lagi tertutup cairan merah yang terus mengalir dari kepalaNya yang tertusuk duri…
Dan……aku terus menangis manakala dalam kepayahanNya, Ia harus memikul balok itu….
Dan…
Kenapa aku tidak berlari untuk menggantikan Simon Kirene memikul balok-balok itu…..aaaaahhhh…..

Aku,..seorang yang dipercaya Guru untuk memimpin jemaat,..memimpin teman-teman yang lain…dan Kunci Sorga itu kataNya akan dipercayakan kepadaku…..Aaaahh….Aku malu, dengan semua itu.  Aku tidak dapat melakukan apa-apa untuk Guru.

Masih jelas terbayang saat-saat susah bersama,… memberi makan 5000 orang padahal perbekalan tidak cukup.. ,  Pengalaman di pantai saat perahu dihantam gelombang,…Berjalan dari desa ke desa…, kadang menginap, kadang tidak….Ah…..Guru….

Masih jelas dalam ingatan disaat kami bersukacita  bersama, melihat orang-orang antusias mengikuti kami dari belakang….,  Tertawa bersama keluarga yang anggota keluarganya disembuhkan….., Memetik gandum bersama…..Ah….wajah itu sungguh meneduhkan.

Memang, Guru sangat tegas dan  keras, saat Dia mengatahkan kepadaku, “Enyahlah Iblis…”
Tapi…tidak terlukiskan kerendahan dan kelembutanNya….
Ah……. Seandainya aku bisa memutar waktu….

Sekarang….
Dimana teman-teman yang lain…. Apakah juga mereka sementara merenung seperti aku?
Bagaimana dengan mayatNya…?
Apakah aku harus ke kubur  Yusuf Arimatea itu untuk melihat mayat Guru?....
Oh…Jangan…. Hari ini hari Sabat….apa kata orang nanti….Aku tidak boleh berjalan sejauh itu….
Berjalan sendirian ke kubur seperti seorang pencuri?....Oh…Tidak.

Dimanakah  teman-teman?...
Ah…Baiklah kita bersama-sama memohon damai dari Dia ditengah kekalutan dan ketakutan ini…
Bukankah Dia adalah Tuhan!!!